Siapakah yang berada di Jalan Allah Azza wa Jalla



Pada era sekarang, banyak orang-orang yang bangga dan berlomba-lomba untuk membela family, kaum, suku, tim favorit, kelompok atau golongan termasuk juga partai, madzab, bangsa, dan tanah airnya. Mereka berani mengorbankan harta dan segala sesuatu yang mereka miliki, bahkan rela walaupun pulang hanya tinggal nama alias nyawa harus melayang untuk membelanya karena kefanatikan dan rasa cintanya. (naudzu billah min syarri dzalik)

Selain itu, di satu sisi yang lain dari sekian banyaknya manusia ada diantara mereka yang gigih berjuang supaya dia dikenal, dipuji, dikenang dan diabadikan namanya, dan dianggap sebagai seorang yang pemberani nan gagah perkasa dalam menghadapi musuh-musuh dan rival beratnya. Diantara mereka juga ada yang gigih berjuang demi untuk meraih harta kekayaan, pangkat, dan memikat hati wanita.

Lalu manakah diantara sekian banyak orang dengan tujuan mereka yang various yang termasuk dalam kategori membela dan berjuang fi sabilillah?

Aiyuhal ikhwah (wahai saudaraku) mari kita perhatikan dan renungkan pendapat dan tadzkirah (peringatan) dari Konsultan kita, Nabiyuna (Nabi kita), Habibuna (Kekasih kita), Khotimul Anbiya’ wal Mursalin (Penutup para nabi dan rasul), Muhammad bin Abdillah saw. berikut ini:

عَنْ أَبِى مُوسَى - رضى الله عنه - قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ ، فَمَنْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». رواه البخاري ب- مَن قاتل لتكون كلمةُ اللهِ هي العُليَا و ب- مَن قاتل للمغنم هل ينقص مِن أجره

Dari sahabat Abu Musa (al-Asy’ariy) ra., dia menuturkan, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw, lalu berkata, ada seorang laki-laki yang berperang dan berjuang untuk mendapatkan ghonimah (harta rampasan perang), laki-laki yang kedua berperang dan berjuang agar disebut-sebut (sebagai seorang pemberani) sedangkan laki-laki yang ketiga berperang dan berjuang supaya mendapatkan penilain dalam hal kedudukannya (martabat, keberaniannya, dan kemampuannya). Maka siapakah (diantara mereka) yang dikategorikan berada fi sabilillah (di jalan Allah)? Beliau menjawab, “Barang siapa yang berperang dan berjuang untuk meninggikan kalimatullah, dialah yang berada fi sabilillah.” HR. Imam Bukhari, bab “Orang yang berperang dan berjuang untuk menegakkan kalimatullah” dan bab “apakah orang yang berperang dan berjuang untuk mendapatkan ghonimah pahalanya berkurang?”.

“Barang siapa yang berperang dan berjuang untuk meninggikan kalimatullah, dialah yang berada fi sabilillah.” Sungguh merupakan jawaban yang singkat, jelas, perfeksionis, dan mencakup semua aspek.

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً ، فَأَىُّ ذَلِكَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا ، فَهْوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » رواه البخاري واللفظ له ومسلم وأبوداود وله " وَيُقَاتِلُ لِيُحْمَدَ" و النسائي والترمذي وقال حديثٌ حسنٌ صحيحٌ وابن ماجة قال الشيخ الألباني في ورواية أبي داود والنسائي: صحيح

Dari sahabat Abu Musa (al-Asy’ariy) ra., dia menuturkan, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. lalu berkata, (wahai Nabi) ada seorang laki-laki yang berperang karena membela keluarga, yang kedua berperang karena menunjukkan keberaniannya, yang ketiga berperang karena riya’ (mengharap pujian dan penilaian dari manusia). Maka siapaka diantara mereka yang termasuk dalam kategori fi sabilillah? Beliau menjawab, “Barang siapa yang berperang untuk menegakkan kalimatullah, dia yang termasuk dalam kategori fi sabilillah”. HR. Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah. Lafal hadits ini milik Imam Bukhari. Dalam riwayat Imam Abu Dawud ada tambahan lafal yang berbunyi يُقاَتِلُ لِيُحْمَدَ “berperang untuk mendapatkan pujian”.

Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits yang dia riwayatkan berderajat hasan shahih. Syekh al-Albani berkomentar bahwa hadits riwayat Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i berderajat shahih.

Ikhwah! Bukankah jawaban Rosululloh cukup jelas dan perfeksionis? Bukankah jawaban dari dua hadits di atas sudah mencakup semua bentuk perjuangan? Dalam artian, kalau ada sebuah bentuk perjuangan, pembelaan, fanatisme, dan semisalnya yang diberikan kepada kelompok, madzab, organisasi, yang tidak diniatkan murni karena menegakkan dan membela Allah dan Rasul-Nya berarti tidak termasuk dalam kategori fi sabilillah. Lebih jelasnya, loyalitas yang dikorbankan itu sia-sia dan tidak ada nilainya di hadapan Allah. Sungguh hal itu merupakan keadaan yang sangat ironis.

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ ». رواه مسلم واللفظ له وأبو داود والنسائي وابن ماجة.

Dari sahabat yang bernama Jundub bin Abdillah al-Bajaliy, dia menuturkan, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,”Barang siapa yang berperang di bawah naungan bendera kebutaan dalam keadaan mengajak atau membela ashabiyah (kebangsaan), matinya termasuk dalam kategori mati jahiliyah. HR. Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah. Lafal hadits ini milik Imam Muslim.



عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يُقَاتِلُ عَصَبِيَّةً وَيَغْضَبُ لِعَصَبِيَّةٍ فَقِتْلَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ عِمْرَانُ الْقَطَّانُ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ. رواه النسائي. - وقال الشيخ الألباني : صحيح- وابن ماجة مِن أبي هريرة - وقال الشيخ الألباني : صحيح-

Dari sahabat yang bernama Jundub bin Abdillah ra., dia menuturkan bahwa Rasulullah sas. bersabda, “Barang siapa yang berperang di bawah naungan bendera kebutaan (tidak jelas statusnya), dia berperang karena ashobiyah (kebangsaan, kaum), dia marah karena ashobiya, maka matinya termasuk kategori mati jahiliyah.



Abu Abdurrahman berkomentar bahwa rawi yang bernama Imron al-Qoththon bukan rawi kuat. Hadits ini diriwayatkan Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah, yang keduanya dianggap shahih oleh syekh al-Albani. Adapun hadits Imam Ibnu Majah diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra.



عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ ». رواه أبوداود باب فِى الْعَصَبِيَّةِ. قال الشيخ الألباني : ضعيف

Dari sahabat bernama Jubair bin Muth’im ra., dia menuturkan bahwa Rasulullah sas. bersabda, “Bukanlah dari golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, dan bukan dari golongan kami pula orang yang berperang dan berjuang membela ashabiyah, dan juga bukan dari golongan kami orang yang mati membela ashabiyah. HR. Imam Abu Dawud, bab “Masalah ashabiyah”. Syekh al-Albani menganggap hadits riwayat Imam Abu Dawud ini berderajat dho’if.



Pengertian Ashabiyah



عَنْ بِنْتِ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَاهَا يَقُولُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ « أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ ». رواه أبوداود باب فِى الْعَصَبِيَّةِ.

Dari anak perempuan Wasilah bin al-Asqo’, dia mendengar ayahnya berkata bahwa aku pernah bertanya kepada Rasulullah sas. apa pengertian ashabiyah itu? beliau menjawab, “Engkau menolong dan membela kaummu yang berbuat kedzaliman”. HR. Imam Abu Dawud, bab “Masalah ashabiyah”.



عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَاتَلَ دُونَ مَالِهِ فَقُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ.رواه البخاري و النسائي.

روي هذا أيضا عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ ولِسعيد بن زيد " وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ " رواه أبو داود و الترمذي - وقال حسنٌ صحيحٌ - والنسائي .قال الشيخ الألباني : صحيح

Abdullah bin ‘Amr ra. menuturkan, aku mendengar Rasulullah sas. bersabda,”Barang siapa yang berperang dan berjuang membela hartanya lalu terbunuh, dia termasuk kategori mati syahid. HR. Imam Bukhari dan Imam Nasa’i.



Hadits ini diriwayatkan juga dari sahabat Sa’id bin Zaid dengan lafal berbunyi, “Barang siapa yang terbunuh karena membela dzin dan dirinya, dia termasuk kategori mati syahid. HR. Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. hadits ini dianggap berderajat hasan shahih oleh Imam Tirmidzi. Adapun syekh al-Albani menganggap hadits ini shahih.



عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ سُوَيْدِ بْنِ مُقَرِّنٍ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ دُونَ مَظْلَمَتِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ. رواه النسائي

Abu Ja’far menceritakan, pada waktu aku duduk bersama Suwaid bin Muqorrin, dia berkata bahwa Rasulullah sas. bersabda, “Barang siapa yang terbunuh karena membela dirinya yang teraniaya, dia termasuk kategori mati syahid. HR. Imam Nasa’i.

Ikhwah! Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa setiap bentuk perjuangan, pembelaan, pengorbanan, perasan air keringat dan deraian air mata, bahkan kematian yang tidak termasuk dari sabda beliau Muhammad SAW., maka tidak dapat dikategorikan fie sabilillah. Dalam kata lain, amalan dan ikhtiarnya sia-sia dan tidak mendapatkan balasan dari Allah Azza wa Jalla. Ironis bukan?

Bolehlah perjuangan dan usaha ataupun ikhtiar itu dipandang baik dan dianggap sebagai sebuah reputasi yang mengharumkan nama kelompok, hizb (partai), kaum, dan nama bangsa. Akan tetapi perlu diingat bahwa kita diciptakan oleh Allah tidak untuk mencari pujian dan penilaian dari manusia. Kita diciptakan untuk menyembah kepada Allah, bukan yang lainnya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)

Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Surat adz-Dzariyat 51/56.

Artinya sudah sepantasnya dan wajib bagi kita untuk mengukur dan menilai baik buruknya suatu amalan berdasarkan aturan Dzat yang menciptakan kita, Allah Robbuna.

Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kita semua dari segala bentuk perjuangan dan usaha yang tidak karena mencari ridho-Nya. Amin. Hanya Allah Dzat yang berhak diminta pertolongan.

والله المستعان