Cuma Di Indonesia Pengajian Umum Dibilang Tempat Perekrutan Teroris



Cuma Di Indonesia Pengajian Umum Dibilang Tempat Perekrutan Teroris
Joko Mulyono di Graha Oikoumene, Salemba, Senin (22/8)

[Jahizu.com] Direktur Keamanan Negara, Baintelkam, Mabes Polri, Kombes Djoko Mulyono Mengatakan bahwa salah satu pola perekrutan radikalisme adalah dipengajian umum. Berdasarkan hasil penelusuran aparat, pola penyebaran yang dilakukan satu diantaranya memanfaatkan pertemuan di forum pengajian. Seperti yang terjadi di Solo, Jawa Tengah.

Pertama, para penganut radikalisme menyebarkan pahamnya melalui pengajian yang bersifat terbuka untuk umum pada pukul tujuh malam.

hal ini diungkapkannya dalam diskusi Radikalisme dan Terorisme Indonesia di Graha Oikoumene, Salemba, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Pernyataaan menyakitkan umat islam ini tentu tak beralasan dan sembrono. Djoko Mulyono tentu tahu Indonesia mayoritas muslim. Seorang muslim wajib menuntut ilmu syar'i, salah satu jalannya  dengan mengikuti pengajian umum.

Pengajian umum bahkan menjadi pondasi masyarakat dari kerusakan moral dan mental dari negara ini. Bisa dibayangkan rusaknya  Indonesia  kalau tidak ada pengajian, tidak ada da’i atau mubaligh, tidak ada pengajaran quran dan sunnah nabi yang disampaikan dimasjid-masjid.

Apakah dia kira program Revolusi Mental bisa merubah tatanan moral masyarakat Indonesia? Sudah ada hasilnya kah? Padahal Biaya Revolusi Mental Rp. 97,8 Milliar. Bahkan disinyalir biaya pembuatan website revolusimental.go.id memakan biaya Rp. 140 M, Anggaran bikin website revolusi mental Rp 140 M tak masuk akal. Padahal kalau dilihat tampilannya website revolusimental.go.id bisa dengan  biaya hanya Rp. 2 juta saja.

Dengan uang sebanyak itu apa perubahan  yang telah diperbuat?  Bahkan dalam perayaan 17an RI ke-71 ada perlombaan dengan gaya mesum, silahkan baca ini Terungkap!! Lomba Hut 17 Agustus Dengan “Adegan” Mesum, Dilakukan Pegawai Pabrik Ini di Medan.

Tuduhan-tuduhan seperti ini bisa jadi hanya melegitimasi pemerintah menyerang masjid-masjid yang dianggap tidak pro pemerintah. Para pemuda mengaji dimasjid dianggap teroris, Pemuda masuk diskotik dianggap biasa. Inilah hasil Revolusi Mental yang sesungguhnya.