Ketua PDIP: Hanura, Golkar Dan Nasdem Juga Perlu Berpikir Ulang Untuk Usung Ahok

Ketua PDIP: Hanura, Golkar Dan Nasdem Juga Perlu Berpikir Ulang Untuk Usung Ahok
Temannya (Teman Ahok) Sendri aja dikhianati, apalagi yang lain...

[Jahizu.com] Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tampaknya berpikir seribu kali sebelum memutuskan mendukung Basuki T. Purnama pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang. Karena melihat track record, loyalitas yang buruk.

Bahkan Ketua DPP PDIP Andreas H Pareira menyebut tidak hanya pihaknya yang perlu berpikir ulang untuk mengusung Ahok, tapi juga Hanura, Golkar dan Nasdem, yang sudah menyatakan dukungan sebelumnya.

PDIP seharusnya berfikir ulang untuk mendukung AHOK dalam Pilkada DKI 2017. Pasalnya Ahok, bisa dibilang politikus kutu loncat.

Bahkan Ketua DPP PDIP Andreas H Pareira mengatakan bukan hanya PDIP yang harus berfikir  ulang, tapi partai yang sudah mengusungnya juga harus (red- Golkar, Nasdem, dan Hanura).

“Namun, parpol-parpol yang sudah mendukung pun (red- Golkar, Nasdem, dan Hanura), perlu berpikir lagi untuk dukungannya pada Ahok. kalau tidak hendak menjadi korban pragmatisme Ahok,” ungkap Andreas (Sabtu. 20/8).

Baca Juga : Blunder Badut Politik

Andreas menambahkan cara politik ahok sangat pragmatis dalam mencapai kekuasaan. Menurutnya, Ahok sebenarnya memang tidak membutuhkan partai-partai politik dan konstituen parpol.

“Ahok lebih melihat parpol hanya sebagai ‘kuda tunggangan’ nya untuk mencapai tujuan, untuk berkuasa di DKI. Cara berpikir pak Ahok sangat pragmatis semua cara bisa digunakan. Entah itu ‘Teman Ahok’, entah itu parpol atau apapun alat yang digunakan. Yang penting adalah dia berkuasa,” ungkapnya.

Politik pragmatis yang dimainkan, seperti politik kuda tunggang. terbukti dengan sudah 3 partai yang ia tunggai. Lebih jauh Andreas H Pareira menjelaskan, Ahok memulai karir dengan Partai Indonesia Baru untuk jadi Bupati di Belitung. Kemudian loncat ke Partai Golkar untuk menjadi anggota DPR-RI. kemudian loncat lagi ke Gerindra untuk pencalonan Pilgub 2012.

“Ketika terpilih menjadi Wagub dengan mudahnya Ahok meninggalkan Gerindra. Menjelang pilgub 2017 Ahok membentuk Tim Sukses Teman Ahok untuk melalui jalur perseorangan dan berkoar-koar sudah mengumpulkan 1 juta KTP,” kata Andreas.

Belum sempat bereksperimen dengn jalur perseorangan, Ahok sudak loncat lagi mencari dukungan dari parpol. Bahkan dari parpol yang pernah dengan mudah ditinggalkan pada 2012.

“Sekarang, konon dukungan dari tiga parpol, Ahok coba  mendekati PDIP yang sebenarnya setia mendukungnya selama 2012 sampai saat ini. Pola yang dipakai Ahok, mengadu domba, memecah belah antara kader dengan kader,” tandas Andreas.

“Ahok dengan licik mencoba mengadu domba antara Djarot dengan partainya PDIP. Berlindung dibalik “ceritanya’ tentang dukungan dari Ketum PDIP. Ahok sedang memainkan politik memecah belah,” demikian politikus senior ini mengakhiri.[zul]