Kisah Cinta Nabi Yusuf, Teladan Pemuda Rabbani


Sungguh, akan kami kisahkan padamu sebaik kisah dengan mewahyukan Al Quran ini... QS. Yusuf : 03.
[Jahizu.com] Surah Yusuf, sebuah novela hakiki dari Allah. Kisah tentang pahit dan getirnya jalan hidup seorang Nabi muda. Liku-liku menjaga kesucian cinta, memancarkan cahaya kebenaran. Di sana, tersembunyi banyak petuah bagi kita yang muda. Sungguh, Pada kisah mereka terdapat Ibrah teruntuk mereka yang teranugrah akal… QS. Yusuf:111. Kala Yusuf dewasa (30th), sempurna jasmani dan ruhaninya. Hikmah dan Ilmu Allah anugerahkan kepadanya. Menggemaskan para wanita di masanya.

Di sinilah, dimulai nestapa cinta. “Wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda untuk menundukkan dirinya.” kisah Al Qur`an. Zulaikha, Istri Al Aziz, terpesona olah elok parasnya. Ia diundung rindu, dimabuk cinta. Ia telah berubah pandangan. Tak lagi Yusuf di matanya anak angkat. Ia tak lagi tuan bagi Yusuf. Yusuf benar-benar telah bersemayam dalam hatinya. Asmara telah menjalar, merasuk dalam hatinya.

Haitalak..!” Sebuah parafrasa terlafal dalam merdu. Zulaikha tak mampu lagi menahan rindu. Dalam bilik yang terkunci, kata itu terlontar.

Itulah frasa asmara yang terabadikan dalam Al Qur`an. Frasa yang hanya kan terucap dari lisan mereka yang telah berbutakan oleh cinta. Di sini kita diingatkan. Cinta adalah membutakan. Ia menghapus rasa malu. Ia mengusir tabiat insaniyyah. “Ma’adzallah,” Yusuf yang bujang menjawab. Dia ingat Penciptanya. Dia ajari kita. Ingat Sang-Pencipta adalah jalan utama keluar dari rengkuhan nafsu. Langkah utama menepis fitnah cinta.

“Tuanku telah berbaik laku padaku.” Lanjutnya. Ia ingatkan, air susu tak sah dibalas air tuba. Alasan logis. Itulah jalan kedua menyibak kabut fitnah wanita, “Sungguh tiada beruntung mereka yang lalim.” Alasan terakhirnya. Yusuf hendak berdakwah. Menuruti nafsu tiada mendatangkan untung. Bahkan, nista. “Jahat pasti terbongkar.” Sepintar orang menyembunyikan bangkai pasti tercium juga baunya. Itulah pesan yang tersampaikan.  

“Wanita itu telah bernafsu, Yusuf pun bermaksud.” Kata Al Qur`an dalam kisah selanjutnya. Rayuan gombal telah menaklukkan Yusuf. Hatinyapun damai oleh cinta, terselubung oleh asmara. Demikan, Allah tunjukkan, Yusuf adalah manusia belaka. Bukan malaikat yang tak berhawa. Ia juga punya rasa terhadap wanita.  

“Andai saja ia tak lihat tanda Rabbnya.” Begitu Al Qur`an. Yusuf tiada terbutakan oleh cinta. Karena, cinta adalah bukan segalanya. Cintanya tertunduk oleh kekuatan ilahiyyah. Allah tampakkan tanda peringatan. Iapun terhenyak dalam sadar.  

 Maka, jadilah cinta bukan segalanya. Karena, yang segalanya adalah Ilahi

“Sungguh ia termasuk Mukhlashin.” Artinya, lindungan hanya untuk mereka yang Mukhlas. Mukhlash bukan Mukhlish. Mukhlash adalah lebih tinggi derajatnya. Ialah tingkat yang Iblis putus asa untuk menggoda (QS.15:40). Adapun Mukhlish, ialah marhalah hamba memulai membangun diri menjadi yang diridlai.

Hujjah Yusuf telah memutus asa Zulaikha. Tetapi, baginya, tak cukup hanya kata-kata. Tempat itu cukup keji. Yusuf beranjak lari menuju pintu. Zulaikha pun tak membelenggu tangan. Ia tarik gamis Yusuf. Dan, sobeklah ia. Berlalulah Yusuf, membuka pintu. Dan…!! Al Aziz telah berdiri di penghadapan. Mereka tercekal, dalam henyakan.  

"Balasan apa buat orang yang berniat jahat pada keluargamu, kalo bukan penjara atau siksa yang menyakitkan??.” Kata Zulaikha mendahului. Dia pintar memanfaatkan sikon. Keadaan adalah milik yang menguasai. Siapa cepat dia dapat. Begitu kata pepatah. Maka, mari cerdas, cepat menindak kesempatan.

Selain itu, diksi adalah kunci. “Ganjaran apa baginya,” telah menvonis Yusuf. Ianya yang salah, sehingga tinggal bicara ganjarannya. Bukan, “Dia berjahat padaku.” Ini, belum tentu Yusuf bersalah, karena masih tuduhan. Yah, mari pandai bermain kata dan jangan tertipu silat lidah.

Sobeknya gamis Yusuf, membawa arti. Ianya yang mengungkap siapa yang sebenarnya jahat. Ianya yang memenangkan Yusuf di meja hijau. Maka, mari pahami. Tak semua luka adalah nestapa. Ada hikmah dibalik segalanya. Kullu Maa Waqa’a Fiihi Khair. Setiap yang terjadi pasti ada baiknya. Demikian kata Ustadzah Ayu Fathonah Al. di salah satu kelasnya.  

“Ini Sungguh adalah makar kalian, kaum Hawa..!” kata Al Aziz, yang terabadikan dalam Al Qur`an. Makar ini disandarkan kepada semua wanita. Bukan, Zulaikha saja. “Itu me
ngingatkan, bermakar adalah watak bawaan pada mereka,” kata Ismail Haqqi dalam “Ruuhul Bayaan”.

Sungguh makar kalian (wanita) adalah besar.” Maksudnya, besar dibanding makar kaum Adam. Makar wanita itu lebih mengambil hati, meninggalkan jejak, lebih mendobrak rasa malu. Hingga, tak heran seorang ulama berkata, “Aku lebih takut makar wanita Sampai di sini, sahabat. Mari, pahami. Cinta itu membutakan. Hati-hatilah denganya. Ia adalah fitnah, bagi mereka yang tak terbentengi iman. Kata orang, “Masa remaja, masa yang indah. Penuh cinta.” Artinya, masa muda adalah penuh fitnah. Fitnah asmara.

Kisah Nabi Yusuf tak sekedar narasi. Ia adalah asuhan Ilahi, bagaimana mengendalikan cinta. Ia membimbing kita, menghijrahkan parafrasa “Bagiku, engkau bukan segalanya, tapi nyaris” dalam sajak Faizi L. Kaelan, menjadi “Bagiku, engkau memang bukan segalanya.”

Bagaimana “tapi nyaris” hilang? Cinta yang nyaris menjadi segalanya masih menyisakan ruang bagi aspek teologi (ilahiyyah). Yaitu, posisi Ilahi yang melampoi segalanya. Maka, jadilah cinta bukan segalanya. Karena, yang segalanya adalah Ilahi. [Said Azzubair/alislam.web.id]