Aktivis Sosial : Saya Kecewa Berat, Menyesal Dulu Pilih Jokowi


Saya merupakan bagian pendukung Jokowi-Jusuf Kalla pada pemilu 2014 lalu. Alasannya sederhana, selama memimpin Jakarta memang Saya merasakan sendiri ada perubahan-perubahan besar yang dibuat oleh pasangan Jokowi-Ahok. Salah satunya adalah PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu), kemudian memangkas birokrasi yang ribetnya minta ampun seperti yang Saya alami masa kepemimpinan Fauzi Bowo.
Saat ini hamper genap satu tahun pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla. Dulu, Saya berharap bahwa pasangan ini mampu menularkan sedikit perubahan yang ada di Jakarta ke seluruh Indonesia. Saya berharap Jusuf Kalla bisa memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan keberagamaan di tanah tercinta ini karena beliau berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), tapi beranjak satu tahun ini ternyata ia tidak bisa berbuat banyak.
Saya nyatakan Saya kecewa, dan salah dalam menentukan pilihan. Harusnya dulu Saya tidak terlalu bersemangat untuk mencelupkan jari kelingking ke tinta ungu karena melihat harapan dari pasangan ini. Perlu diketahui, pemilu kemarin merupakan kali pertama Saya menggunakan hak Saya untuk memilih. Harusnya kemarin Saya memilih untuk tetap menjadi golongan putih. Saya tidak berharap juga waktu itu memilih Prabowo-Hatta, tapi setidaknya jika melihat kondisi saat ini, meski tidak ada yang menjamin Prabowo-Hatta lebih baik, atau bahkan bisa jadi lebih buruk, tapi Saya ingin melihat mereka memimpin.
Kegagalan ini harus ditutupi dengan berbagai alasan bagi para pendukung Jokowi, ataupun Presiden sendiri. Perubahan Indonesia butuh waktu, tidak bisa dilakukan dalam semalam, itu salah satu alasannya. 100% Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Bahkan 10 tahun pun rasanya belum bisa menjadikan Indonesia negara maju dan tidak tergantung pada IMF, PBB, dan negara-negara besar yang maju lainnya yang membuat kita jadi bangsa yang penuh hutang. Hutan itu membuat kehinaan di siang hari, dan begitu menyiksa di malam hari. Tapi, kita harus bisa membuat perubahan kecil ke arah yang lebih maju untuk memastikan bangsa ini bergerak maju, bukan bergerak mundur.
Saat ini Indonesia malah bergerak mundur, inflasi terus meningkat, indeks pertumbuhan ekonomi tidak kunjung meningkat, dolar terus melambung, sehingga pengusaha yang berkutat di dalam negeri kantongnya menjadi kembang kempis. Memang tidak bisa sekejap membenahi Indonesia, tapi dari pernyataan itu, harusnya step by step, waktu demi waktu bisa diiringi dengan progres kemajuan. Tapi ini nyatanya kita mengalami kemunduran. Sungguh pernyataan dan alasan yang sangat ironi, berbanding terbalik.
Jokowi bahkan tidak bisa mengamankan konstelasi politik dalam negeri. Ini yang dulu SBY lakukan, meski dengan jauhnya jarak dirinya dengan rakyat, tapi Saya sebagai akademisi yang memiliki pendidikan politik yang cukup di organisasi paham benar kuatnya SBY dalam mengamankan kekuatan-kekuatan politik besar kala itu. SBY membuat Sekretariat Bersama koalisinya, mengamankan kekuatan besar di DPR RI sehingga gejolak politik bisa diredam, dan pemerintah bisa menjalankan kegiatan tanpa rintangan.
Saya kecewa, sangat kecewa dan merasa menyesal memilih Jokowi-JK dulu. Maafkan kami yang telah memilih bagian yang salah saudara-saudaraku. Meski sejak 10 Juli tahun lalu Saya sudah berjanji untuk menjadi bagian dari parlemen jalanan seperti dulu lagi, dan hingga saat ini Saya konsisten melakukan kritik-kritik untuk kinerja pemerintahan Kabinet Kerja yang (malah) menyengsarakan rakyat.
Kemudian dari sisi kehidupan sosial, Indonesia saat ini cenderung terbaratkan. Kehidupan beragama yang menjadi dasar kita bernegara malah tersingkir dari kehidupan. Agama hanya dijadikan sarana ibadah di rumah. Saya rasa ini kemunduran yang sangat mengecewakan. Saya tidak ingin negara ini menjadi negara sekuler yang berselimut agama.
Buat para pendukung Jokowi, jika kalian bukan bagian dari tim Jokowi, bukan tim sukses Jokowi, atau bukan bagian dari pemerintahan politik yang digaji Jokowi, silahkan buka mata, maka kalian akan lihat kenyataan ini sejelas membedakan warna hitam dan putih. Kecuali untuk para petugas di lingkar kekuasaan saat ini, sangat wajar dan normal jika Anda membela orang yang berkepentingan dengan Anda, Saya maklumi itu.
Jika Anda hanya orang awam seperti Saya, jangankan kerja yang berantakan saat ini, bahkan di saat kinerja pemerintahan sedang bagus sekalipun, sudah tugas kita melakukan pengawasan, memberikan kritik keras, pedas, dan tajam, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengembalikan Jokowi dan senior Saya Jusuf Kalla ke jalan yang lurus.
Just a Little Note : Kemarin pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Nasional SOKSI Saya hadir, dan kebetulan acara dihadiri Presiden Jokowi, dan Saya cukup bersukur, ternyata kita memiliki presiden yang lucu. hehe
Aktivis Sosial : Ananda Puja