Bom Gereja Medan (28/8), Operasi Intelijen Hitam Sudutkan Islam Demi Alihkan Perhatian Kebobrokan Penguasa


[Jahizu.com] Lagi-lagi umat beragama di Indonesia difitnah (diadu domba) oleh operasi hitam Intelejen, demi pengalihan isu kebobrokan penguasa. Terakhir dengan adanya teror bom yang terjadi di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, ahad (28/8).

Teror bom bunuh diri (gagal) tersebut menyebabkan pengkotbah di gereja itu, Pastor Albert S. Pandingan, mengalami luka ringan di bagian lengan kiri.

Kekhawatiran dikalangan masyarakat dipermainkan, kecurigaan antar pemeluk beragama dipupuk, islamphobia disuburkan.

Harian online detik.com mengangkat berita mengenai sosok pelaku adalah orang yang taat beragama. Penggiringan opini seolah pemuda yang taat beragama adalah orang yang mudah diseret kedalam kancah terorisme. Padahal MUI mencurigai IAH bukan orang islam, karena sebab yang tertulis dibeberapa paragraf berikut.

kutip dari detikcom
Operasi Intelijen memang biasa menyusup kekalangan anak muda yang baru belajar islam, semangat perjungan islam yang tinggi, dan sedikit memahami jihad. Mereka sangat mudah menjadi bahan untuk dijadikan mortir Operasi Hitam. Tapi mungkin lain halnya dengan kasus ini.

Baca Juga : Cuma Di Indonesia Pengajian Umum Dibilang Tempat Perekrutan Teroris

Seperti yang dikutip dari Dikutip dari kompas.com, IAH (18), pelaku teror di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph, Medan, mengaku melakukan aksi atas suruhan orang tak dikenal. IAH dijanjikan uang Rp 10 juta untuk menyerang gereja. Judul : Pelaku Teror Bom di Gereja Medan Diiming-imingi Rp 10 Juta oleh Orang Tak Dikenal

Pelaku Patut Dicurigai:

1. KTP tidak terdaftar di Depdagri
2. Belum sunat
3. Tulisan kalimat Tauhid-nya salah.

MUI yang mencurigai adanya taktik penghancuran Islam melalui isu terorisme. Pasalnya, Polisi menjadikan sejumlah barangbukti berupa pisau yang digunakan penyerang, KTP dan kertas bertuliskan Tauhid yang diketahui ditulis langsung dengan tangan.

Jika dilihat dari KTP, diketahui identitas pria itu beragama Islam. Sayangnya, banyak kejanggalan terkait identitas teroris berinisial IAH ini.Diantaranya adalah kalimat Tauhid yang tertulis dikertas berukurang kecil itu, tertulis kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan bahasa arab, namun penulisannya salah.

Penulisan yang benar: لا إله إلا اللهTulisan milik IAH: ل اله إلا الله Kurang huruf alif setelah lam yang harusnya berarti tidak ada -yang berhak disembah-. Namun jika tidak terdapat alif, maka fungsi kata itu menunjukan: benar-benar ada. Yang mengartikan kedua kata itu berbanding terbalik artinya.

Seorang Facebooker bernama AkmalSagala memposting gambar kalimat tauhid itu. Dalam status yang ia tulispada 28 Agustus 2016, ia mengatakan bahwa pelaku teror hanya ingin memprovokasi warga Sumatra Utara.

"Pelaku Bom Bunuh diri di Greja St.Yosep Setia Budi Medan. Orang ini hanya ingin memprovokasi sumut, ktpnya islam tp dia blm sunat, apa ada org islam yg berumur18 thn belum disunat?

Dia membuatlambang tauhid spt bendera isis, tp tulisan arabnya jelas salah, Jd tolongjgn ada yg terprovokasi kepada sara," tulisnya.

Isu terorisme Masih menjadi kartu AS yang dimainkan oleh penguasa, untuk mengalihakan isu nasional yang sedang menjadi sorotan rakyat. Dibantu dengan media mainstream yang biasanya menampilan ulasan-ulasan, acara-acara dialog, dan lainnya yang disampaikan hingga berminggu-minggu. Sampai kapan rakyat dipermainkan dengan cara kotor seperti ini?