Wakasekjen MUI Pusat : Ahok itu Seperti Kompeni Belanda, Kejamnya Kepada Rakyat Kecil Saja

Wakil Sekjen MUI Pusat Dr KH Tengku Zulkarnaen
 
Dr KH Tengku Zulkarnain 
(Wakil Sekjen MUI Pusat)
 
Kerusuhan Tanjung Balai, Medan, menyadarkan kita bahwa kerusuhan rasial sewaktu-waktu bisa meledak di negeri ini.  Apalagi jika dipicu oleh sesuatu yang sensitif, nilai-nilai agama misalnya. Indonesia ini, seperti diketahui,  negeri mayoritas Muslim yang sudah sangat familiar dengan kumandang adzan, sejak kemerdekaan 71 tahun lalu. Kemerdekaan Indonesia, juga dicapai antara lain dengan pekik takbir Bung Tomo : Allahu Akbar, Allahu Akbar di kota pahlawan Surabaya waktu itu. Maka aneh jika seorang Cina perempuan Tanjung Balai Medan, Meliana, bersama anaknya,  marah-marah memprotes pengurus Masjid ketika adzan dikumandangkan. Meliana melakukan protes empat kali sambil memaki pengurus Masjid. Maka terjadilah kerusuhan Tanjungbalai.

Tapi, mengapa seorang Cina perempuan Meliana bisa begitu berani memprotes adzan dan memaki pengurus Masjid ?  Inilah kondisi sosio-kultural-politik bangsa ini, himpitan tirani minoritas yang menindas mayoritas. Lihatlah betapa minoritas Cina, Aseng, non Muslim, begitu menguasai semua lini kehidupan, ekonomi, perdagangan, keuangan, dan kini sosial-politik kekuasaan. Dengan fenomena Gubernur DKI Jakarta Ahok yang sangat arogan, tapi kemudian didukung dan sangat dipuja-puja, membuat kaum minoritas seperti sudah menggenggam Indonesia, membuat seorang seperti Meliana begitu sangat berani melarang kumandang adzan menghina dan memaki pengurus Masjid. Kita khawatir bentrokan rasialis sewaktu-waktu  bisa saja terjadi lagi di tempat lain. 

Kekhawatiran yang sama terungkap dalam doa menggemparkan ketika berlangsung sidang tahunan pembacaan nota keuangan di gedung DPR-RI 16 Agustus lalu. Untuk lebih mendalami permasalahan Cina Aseng dan konflik rasialis, Suara Islam mewawancara Dr KH Tengku Zulkarnain, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, seorang keturunan Cina Muslim sekaligus mubaligh asal Medan, dan beristri asli Tanjung Balai. Berikut petikannya.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu terjadi kerusuhan Rasial di Tanjung Balai Medan yang dipicu oleh protes terhadap kumandang adzan. Ini sangat aneh di negeri yang mayoritas Muslim, kumandang dzan kok diprotes. Bagaimana komentar Anda?
 
Ini suatu keanehan ketika minoritas Cina yang jumlahnya sekitar 2% di Tanjungbalai, kok tiba-tiba berani seorang wanita dan anaknya melakukan empat kali protes ke masjid supaya adzan tidak usah pakai speaker, dia marah-marah bahkan memaki-maki.
 
Mungkin dalam pikiran mereka, seolah-olah beranggapan "oh kita sudah kuasai Indonesia kok, ekonomi sudah kita kuasai, tanah juga mayoritas sudah kita miliki, partai politik sudah kita kuasai, gubernur bupati walikota sudah kita pegang, bahkan tahun berikutnya kita sudah mencalonkan presiden. Jadi huana-huana orang-orang Islam ini yang tidak ada manfaatnya lebih baik kita hajar saja," begitu.
 
Padahal sebenarnya, umat Islam di Tanjungbalai itu sangat baik, mungkin terbaik sedunia. Coba perhatikan, setiap hari orang-orang Cina disana itu bakar dupa, dan rumah disana itu sangat padat. Itu asap dupanya itu masuk ke rumah-rumah kita umat Islam. Berpuluh-puluh tahun kita tidak protes, kita paham itu lakum dinukum waliyadin, urusan agama masing-masing, sudahlah kita sabar karena itu resikonya bertetangga dan bernegara.
 
 
Kemudian, orang-orang Cina ini juga punya bangunan yang tinggi-tinggi buat sarang walet, hampir 100% sarang walet di Tanjungbalai itu milik orang Cina. Dan bukan hanya di Tanjungbalai, Bagansiapiapi, Indragiri Hilir, Singkawang dan lainnya di sekitar pinggir laut penangkar walet itu bukan orang Islam punya. Mereka itu 12 jam dari pagi sampai sore memutar soundsystem suara burung walet yang terdengar sampai sejauh satu kilometer. Bayangkan berapa banyak bangunan seperti itu dan puluhan tahun mereka melakukan itu, kita tidak protes. Orang Islam paham mereka sedang mencari makan, sudahlah sabar karena itu resiko bertetangga dan bernegara.
 
Eh tiba-tiba, adzan kita yang cuma dua menit mau diatur bahkan dilarang. Kalau soal aturan, umat Islam itu sudah mengatur diri sendiri, kapan waktunya adzan dan berapa jangkauan suaranya yang sejauh satu mukim, satu mukim itu sekitar 40 rumah jadi tidak perlu sampai banyak kampung yang mendengar, itu cuma untuk mukimnya masing-masing kok. Makanya untuk adzan itu tidak perlu soundsystem yang besar, cukup speaker toa saja yang rata-rata kekuatannya hanya sekitar 300 watt saja. Apalagi Masjid Al Makhsum yang diprotes itu juga cuma pakai toa saja, bukan seperti soundnya masjid istiqlal yang besar.
 
Jadi saya pikir, ini arogansi minoritas, mereka sudah merasa menguasai segalanya terus menganggap remeh terhadap bangsa Indonesia. Apalagi sekarang UUD 45 sudah dirubah, yang seharusnya presiden itu harus orang asli Indonesia (pribumi) itu kata aslinya sudah dibuang, artinya WNI keturunan bisa jadi presiden. Berarti mereka dengan kita sama, kira-kira seperti itu.
 
Dan saya tahu betul tentang Tanjungbalai karena itu kampung istri saya, dan saya itu juga orang Cina, kalau saya pulang ke kampung Ibu saya di Bagansiapiapi itu harus lewat Tanjungbalai, menginap dulu disana selama 3-4 hari sambil menunggu kapal menuju Bagansiapiapi. Jadi saya kenal betul bahwa umat Islam di Tanjungbalai itu sangat baik, toleran, penuh pengertian, kok tiba-tiba meledak terjadi peristiwa pembakaran wihara yang diawali oleh protes adzan dari warga etnis Cina itu.
 
Saya melihat, pristiwa ini terjadi karena tiga hal. Pertama, orang-orang pribumi umat Islam sudah lama tertindas, mau apa saja tidak berdaya. Mau usaha roti misalnya, tepungnya Cina punya, mau bikin bengkel sparepartnya Cina punya dan seterusnya, jadi kita ini kuli-kuli kecil diujung-ujung. Umat Islam disana sebagian jadi nelayan penangkap ikan dan kerang, tetapi kapalnya sekarang sudah dimiliki CIna, dahulu masih ada orang Islam yang punya sekarang sudah tidak ada lagi.
 
Mereka juga bangun patung Budha setinggi 163 meter, bayangkan, adakah kita hancurkan patungnya, kan tidak. Kita mengerti lakum dinukum waliyadin. tetapi kalau kita kembali dengan pikiran yang waras, pantas tidak mereka yang hanya 1-2 % bikin patung Budha setinggi itu dan terbesar se-Asia Tenggara? kan tidak. Jadi jangan asal boleh, sesuatu yang boleh itu belum tentu pantas. Jadi pikirkan juga kepantasannya.
 
Banyak kalangan menilai kasus Tanjungbalai sangat berbeda dibandingkan dengan kasus di Tolikara, sangat mencolok ketidakadilan pemerintah dalam menyikapinya. Bagaimana pendapat anda?
 
Saya pikir ini karena presidennya, karena itu saya ingatkan kepada para penguasa. Jangan karena ketidakberdayaan rakyat membuat mereka tidak adil. Cina merasa berkuasa karena duit mereka semua yang kuasai, saya dapat kabar disinyalir 98 % duit Indonesia itu dimiliki Cina, 10 naga Cina, 2 % saja yang dimiliki rakyat kecil. Jadi andaikata semua rakyat ambil semua uangnya dari bank, bank tidak akan bangkrut, tetapi kalau 10 Cina itu ngambil, tutup bank. 
 
Ketidakadilan ini dilihat dengan jelas oleh rakyat. Ketika terjadi Tolikara, umat Islam dipersalahkan. Katanya bukan masjid yang dibakar, padahal jelas-jelas masjid yang dibakar, ada surat peringatan tidak boleh shalat hari raya Idul Fitri, tidak boleh pakai jilbab, surat tersebut ditandatangani pendeta dan pakai kop surat serta stempel. Jadi itu jelas terorganisir, berbeda dengan Tanjungbalai yang hanya aksi spontanitas akibat dipicu pelarangan adzan itu. Jadi umat Islam tidak bisa ditipu karena sekarang sudah zaman modern, pemberitaan itu mudah menyebar dan dikirim kemana-mana, media sosial tidak terbendung. Jadi pemerintah harus adil dan rasional. 
 
Sementara, kelompok pembakar masjid di Tolikara malah diundang ke istana, diampuni seperti tidak ada masalah. Juga termasuk masalah Aceh Singkil, sudah jelas-jelas mereka bikin gereja tanpa izin, ketika diprotes tidak mau, malah menembak lagi dari dalam gereja sampai ada orang Islam yang meninggal. Sampai-sampai ada Jenderal datang kesana, Kapolri datang, kasad datang, seolah-olah diperlukan untuk mengatasi umat Islam, tetapi giliran di Tanjungbalai yang ditangkap semua orang Islam, provokatornya non muslim tidak ditangkap. Jadi ketidakadilan ini jangan sampai terulang. Syukurlah Kapolda Sumatera Utara mengambil inisiatif untuk melepaskan mereka.
 
Jadi sebenarnya, umat Islam hanya minta adil dan proporsional. Kalau orang Islam 90% maka proporsi 90% untuk orang Islam, jangan umat Islam mayoritas tetapi proporsinya cuma 2%, dan kebijakannya lebih banyak menguntungkan orang-orang Cina saja. Seperti contohnya di Jakarta, pemerintah mau cari tanah untuk rumah susun sewa murah rakyat miskin susahnya bukan main, tetapi untuk grup-grup Cina hampir semua sudut Jakarta mereka punya, punya apartemen mewah dimana-mana, itu yang bikin mudah seperti itu siapa? 
 
Jadi rakyat melihat semua ini. Jika ketidakadilan, ketertindasan, ketidakberdayaan ini dipelihara, rakyat Indonesia ini seperti rumput kering, dipantik sedikit saja langsung terbakar dari Sabang sampai Merauke.

Potensi kerusuhan Rasial meningkat di negeri kita ini. Terutama sejak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, memimpin dengan sangat Arogan, Kasar, dan represif terhadap umat Islam :  Jualan dan Potong Qurban di persulit, Takbir keliling dilarang, Pemimpin Non Muslim ditempatkan di warga mayoritas Muslim, Penggusuran kampung-kampung Muslim (Kampung Pulo, Kalijodo, Luar Batang, Pasar Ikan, Bidara Cina, dll). Gaya kepemimpinan  model Ahok sangat mungkin memunculkan konflik Rasial dan Agama. Bagaimana menurut  Anda ?
 
Kita ingatkan saja kepada rakyat Indonesia agar tidak mudah disuap dalam soal politik, karena akibatnya kalau salah pemimpin lihatlah yang terjadi seketika mereka berkuasa beberapa tahun saja. Saat Ahok menggusur rakyat kecil kayak kompeni Belanda, mengerahkan tentara dan polisi sampai habis bersih semua, gak dipikirin disitu ada anak kecil dan orang tua yang tidak berdaya yang mereka akhirnya tidur di perahu. Tetapi giliran reklamasi yang tidak punya izin, menterinya pada ribut, menteri koodinator ribut, menteri kelautan ribut, DPRnya juga, kok malah yang salah dibela mati-matian. Jadi penguasa sontoloyo namanya ini, kalau Soekarno bilang Gatoloco, kalau orang Cina bilang, saya orang Cina, sialan ini orang. Terlalu bodoh umat Islam kalau memilih orang yang moralnya seperti itu.
 
Ahok itu seperti Kompeni Belanda, kejamnya kepada rakyat kecil saja, tetapi sama pemasok pemasuk duit menjilatnya bukan main. Kenapa reklamasi G sudah dibatalkan tetapi bilangnya masih bisa masih bisa. Kenapa bisa seperti itu? karena disitu ada dana 500 triliun, nah rakyat melihat. Tidak usah bersembunyi pada sebatang lalang, percuma. Kasus ini transparan membuat semua banyak yang tahu.
 
Jadi terus terang saja saya bilang Ahok itu seperti Kompeni Belanda, terhadap rakyatnya sendiri yang miskin mengerahkan polisi dan tentara untuk menggusur, giliran kepada pemasok duit dia bela mati-matian. Jadi tidak salah saya bilang dia seperti itu.
 
Lalu soal kasus korupsi Rumah Sakit Sumber Waras, Ketua Yayasannya Kartini Mulyadi sudah mengaku bahwa dia hanya terima 355 milyar, yang 400 miliar lagi tanya Ahok, tetapi itu nggak dikejar. Polisinya diam, BPKPnya diam, KPKnya diam, BPK yang sudah membuktikan ee malah BPKnya yang dicurigai. Belum pernah selama ini BPK hasil pemeriksaannya diprotes, Amerika dan Eropa saja mengakui kehebatan BPK kita, tetapi seorang Ahok berani menghina hasil BPK, dan anehnya yang lain diam saja.
 
Jadi rakyat menunggu keadilan, tetapi kalau kezaliman ini terus menerus didiamkan, maka rakyat akan bertindak. Percayalah, Belanda saja kita lawan, Jepang yang hebat juga kita lawan apalagi mereka, saya khawatir perang sesama bangsa sendiri nanti ini bisa terjadi. [SF/SI]
 
Bersambung.....